Bisnisdigital.umsida.ac.id – Di era digital, pengumpulan data lapangan tidak lagi dilakukan dengan kertas dan catatan manual.
Berbagai lembaga kini mengandalkan aplikasi mobile berbasis pemetaan untuk mempercepat proses pendataan.
Namun di balik kemajuan teknologi tersebut, muncul satu dilema menarik, apakah fleksibilitas penggunaan lebih penting daripada integrasi sistem secara real-time?
Pertanyaan ini menjadi sorotan dalam penelitian yang dilakukan oleh Mochamad Rizal Yulianto SE MM, dosen Program Studi Bisnis Digital Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), yang mengkaji pengalaman pengguna dua aplikasi pemetaan lokasi usaha yang digunakan di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sidoarjo, yakni SW Maps dan Kendedes Mobile.
Penelitian tersebut dilakukan dalam konteks kegiatan pemetaan lokasi usaha sebagai bagian dari persiapan Sensus Ekonomi 2026.
Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam terhadap pegawai BPS dan mahasiswa magang, penelitian ini mengungkap perbandingan menarik antara kedua aplikasi tersebut dari sisi pengalaman pengguna.
Baca juga: Shadow Ban dan Visibility Crisis Saat Brand Tiba Tiba Hilang di Media Sosial
Fleksibilitas Offline: Kekuatan SW Maps di Lapangan

Dalam praktik pendataan di lapangan, kondisi jaringan internet sering kali tidak stabil.
Pada situasi seperti ini, kemampuan aplikasi untuk tetap berjalan secara luring (offline) menjadi nilai penting bagi petugas sensus.
SW Maps menjadi salah satu aplikasi yang cukup populer karena memiliki fleksibilitas tinggi dalam penggunaan offline.
Aplikasi ini memungkinkan petugas untuk menandai lokasi usaha secara langsung di peta digital meskipun tidak terhubung dengan jaringan internet.
Menurutnya, hal ini menjadi keunggulan utama SW Maps karena petugas tetap dapat melakukan pencatatan lokasi usaha meskipun berada di wilayah dengan keterbatasan jaringan.
Data yang dikumpulkan dapat disimpan terlebih dahulu di perangkat dan kemudian disinkronkan ketika koneksi internet tersedia kembali.
Namun di balik fleksibilitas tersebut, terdapat keterbatasan pada aspek pengelolaan data.
Data yang telah dikumpulkan melalui SW Maps tidak langsung terhubung dengan sistem internal BPS.
Petugas harus mengekspor data ke dalam format file terlebih dahulu, kemudian mengunggahnya secara manual ke sistem BPS untuk proses pengolahan lebih lanjut.
Menurutnya, hal ini dapat menyebabkan pekerjaan tambahan bagi petugas karena proses pengelolaan data harus dilakukan dua kali, yakni di lapangan dan di kantor.
Lihat juga: Lewat Audiensi Mahasiswa Administrasi Publik Umsida Dalami Mitigasi Banjir
Integrasi Real-Time: Kekuatan Kendedes Mobile
Berbeda dengan SW Maps, aplikasi Kendedes Mobile dikembangkan secara internal oleh BPS Provinsi Jawa Timur dengan fokus utama pada integrasi sistem.
Aplikasi ini memungkinkan data yang diinput oleh petugas langsung terkirim ke server BPS secara real-time.
Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa pendekatan ini membuat proses pendataan menjadi lebih efisien karena petugas tidak perlu lagi melakukan proses ekspor dan unggah data secara terpisah.
Data lokasi usaha yang ditandai di lapangan langsung tersimpan dalam sistem pusat dan dapat diakses secara kolektif oleh petugas lainnya.
Menurutnya, hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga mengurangi potensi kesalahan data yang sering terjadi dalam proses pemindahan file secara manual.
Selain itu, tampilan antarmuka Kendedes Mobile juga dinilai lebih sederhana dan terstruktur.
Fitur yang disediakan lebih fokus pada kebutuhan utama proses pendataan, sehingga pengguna termasuk mahasiswa magang dapat mempelajari cara penggunaannya dengan lebih cepat.
Antara Fleksibilitas dan Integrasi Sistem
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua aplikasi sebenarnya memiliki keunggulan yang berbeda.
SW Maps unggul dalam fleksibilitas penggunaan di lapangan karena dapat digunakan secara offline, sementara Kendedes Mobile lebih unggul dalam efisiensi sistem karena terintegrasi langsung dengan server BPS.
Menurutnya, temuan ini menunjukkan bahwa desain aplikasi dan integrasi sistem memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas pengalaman pengguna serta efektivitas proses pengumpulan data di lapangan.
Pada akhirnya, dilema antara fleksibilitas dan integrasi sistem menjadi refleksi penting bagi pengembangan teknologi pendataan di masa depan.
Aplikasi yang ideal tidak hanya harus mampu bekerja dalam berbagai kondisi lapangan, tetapi juga perlu terhubung secara efektif dengan sistem pengelolaan data.
Dengan demikian, pengembangan teknologi statistik tidak hanya soal kecanggihan aplikasi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi tersebut mampu mendukung kerja manusia di lapangan secara lebih efisien dan akurat.
Sumber Jurnal: Analisis Perbandingan Pengalaman Pengguna pada Aplkasi Pemetaan Lokasi di BPS Sidoarjo (Studi Kasus pada SW Maps dan Kendedes Mobile).
Penulis: Indah Nurul Ainiyah










