Bisnisdigital.umsida.ac.id – Bukan Sekadar Modal Digital Mengapa Biaya Menjadi Penghalang UMKM Desa Bertransformasi
Transformasi digital sering dianggap sebagai jalan baru. Namun, bagi sebagian UMKM desa, digitalisasi belum mudah dilakukan.
Persoalannya bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi. Ada pertimbangan ekonomi yang ikut menentukan keputusan.
Bagi sebagian pelaku usaha, digitalisasi masih dipandang sebagai tambahan biaya. Mereka mempertimbangkan keuntungan yang diperoleh dibandingkan pengeluaran baru.
Fenomena tersebut terlihat dalam penelitian berjudul Optimalisasi Data Sensus Ekonomi sebagai Dasar Pengembangan Bisnis Digital UMKM di Desa Gedangan.
Penelitian ini dilakukan Al Akbar Himawan dan Bayu Hari Prasojo dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Penelitian tersebut mengidentifikasi berbagai hambatan digitalisasi UMKM. Salah satunya adalah keterbatasan ekonomi dan persepsi terhadap biaya digital.
Melalui kegiatan profiling, tagging, dan wawancara, penelitian memetakan kondisi usaha masyarakat. Sebanyak 300 usaha berhasil teridentifikasi di Desa Gedangan.
Hasilnya menunjukkan bahwa banyak UMKM masih menghadapi tantangan transformasi digital.
Baca juga: Saham BIKE dan WSBP Disuspensi, Apa Maknanya bagi Investor?
Ketika Digitalisasi Dipandang Sebagai Beban Baru

Digitalisasi sebenarnya menawarkan peluang besar bagi UMKM. Teknologi dapat memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
Namun, sebagian pelaku usaha masih memiliki pertimbangan berbeda. Mereka melihat digitalisasi membutuhkan biaya tambahan.
Penelitian menemukan beberapa UMKM belum menggunakan platform digital. Salah satu alasannya adalah biaya administrasi transaksi digital.
Toko sembako Bunda menjadi salah satu contoh. Usaha tersebut belum menerapkan digitalisasi karena kondisi ekonomi usaha.
Pemilik usaha mempertimbangkan biaya bahan baku yang meningkat. Pendapatan usaha juga masih menjadi pertimbangan utama.
Selain itu, biaya transaksi digital dianggap belum sebanding. Keuntungan usaha belum dirasakan cukup untuk beralih.
Kondisi serupa terjadi pada usaha susu kambing. Usaha tersebut belum menggunakan promosi digital.
Pemilik usaha masih mengandalkan pelanggan sekitar. Strategi konvensional dianggap lebih sesuai kondisi saat ini.
Hal tersebut menunjukkan bahwa hambatan digitalisasi bersifat kompleks. Persoalannya bukan hanya akses teknologi.
Lihat juga: Optimalisasi Big Data Lokal melalui Sensus Ekonomi untuk Pengembangan Ekosistem Digital UMKM Desa
Tantangan Digital Bukan Hanya Masalah Biaya
Persepsi biaya menjadi salah satu penghambat utama. Namun, faktor kemampuan juga memiliki pengaruh besar.
Penelitian menemukan keterbatasan sumber daya manusia. Banyak pelaku usaha belum memiliki kemampuan teknologi.
Pada sektor jasa, kondisi tersebut juga terlihat. Praktik layanan kesehatan belum menggunakan sistem digital optimal.
Keterbatasan kemampuan mengelola teknologi menjadi kendala. Sistem pelayanan digital belum dapat diterapkan secara maksimal.
Artinya, digitalisasi membutuhkan pendekatan yang lebih luas. UMKM membutuhkan pemahaman manfaat teknologi.
Tidak semua digitalisasi harus menggunakan layanan berbayar. Banyak platform sederhana dapat dimanfaatkan.
Penggunaan media sosial bisnis dapat menjadi langkah awal. Pemanfaatan Google Business Profile juga dapat membantu.
WhatsApp Business dapat mendukung komunikasi pelanggan. Marketplace lokal juga dapat menjadi alternatif pemasaran.
Membangun Digitalisasi UMKM yang Murah dan Berkelanjutan
Digitalisasi UMKM tidak dapat dilakukan secara instan. Pendampingan menjadi bagian penting dalam proses perubahan.
Pemerintah dan perguruan tinggi memiliki peran strategis. Kolaborasi dapat menghadirkan program yang sesuai kebutuhan.
Pelatihan digital harus mempertimbangkan kondisi pelaku usaha. Materi harus sederhana dan mudah diterapkan.
UMKM membutuhkan strategi digital yang realistis. Teknologi harus memberikan manfaat nyata bagi usaha.
Data sensus ekonomi dapat menjadi dasar perencanaan. Data tersebut menggambarkan hambatan yang dialami UMKM.
Melalui data tersebut, program pemberdayaan dapat lebih tepat sasaran. Dukungan dapat diberikan sesuai kebutuhan masing-masing usaha.
Pada akhirnya, digitalisasi bukan sekadar persoalan teknologi. Digitalisasi juga berkaitan dengan kesiapan ekonomi dan pola pikir.
UMKM desa memiliki peluang besar berkembang secara digital. Namun, transformasi membutuhkan dukungan yang berkelanjutan.
Membangun bisnis digital berarti menciptakan kemudahan. Bukan menghadirkan beban baru bagi pelaku usaha.
Sumber jurnal: Optimalisasi Data Sensus Ekonomi Sebaai Dasar Pengembangan Bisnis Digital UMKM di Desa Gedangan
Penulis: Indah Nurul Ainiyah









